26.5 C
Jakarta
Minggu, 31 Mei 2026
BerandaBerita UtamaRupiah Melemah, Harga Kedelai Impor Meroket: Perajin Tahu Banyuwangi Terpukul

Rupiah Melemah, Harga Kedelai Impor Meroket: Perajin Tahu Banyuwangi Terpukul

Date:

Trending

Patok Merah Putih Sebagai Tanda Dimulakan Pembangunan Asrama Yatim Yayasan PADI

M4M4T.COM, Kabupaten Bekasi -Hari Ahad, 30 Juni 2024 akan...

Gelaran PON XXI, Putra Nababan: Pelaku Parekraf Jadi Lokomotif Geliat Ekonomi

M4M4T.COM, Jakarta - Geliat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON)...

Perbakin Kota Bandarlampung Helat Kejuaraan Menembak Nasional

M4M4T.COM, Bandarlampung - Pengurus Kota (Pengkot) Perbakin Kota Bandarlampung...

Penelusuran Tim Media AsMEN Ungkap Sejarah Istana Kepresidenan Yogyakarta

M4M4T.COM | Yogyakarta - Sejumlah perwakilan media massa yang...

Tiga Tahun Berturut-turut, Kemendagri Perkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Gerakan 10 Juta Bendera

M4M4T.COM, Pekanbaru – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat...
spot_imgspot_img

BANYUWANGI _ 30 Mei 2026, m4m4t.com – Guncangan ekonomi makro yang tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, kini mulai terasa dampaknya hingga ke tingkat usaha kecil dan menengah.

Mereka yang sangat bergantung pada pasokan barang atau bahan baku dari luar negeri kini harus menelan pahitnya kenaikan biaya produksi. Salah satu sektor yang paling merasakan tekanan berat ini adalah industri rumah tangga pengolahan pangan, khususnya para perajin tahu di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, yang sangat menggantungkan kebutuhan bahannya pada kedelai impor.

Pelemahan mata uang nasional yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini secara langsung berimbas pada lonjakan harga kedelai di pasaran. Karena mayoritas kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, setiap kali nilai tukar rupiah tertekan, harga jual komoditas tersebut otomatis ikut melambung tinggi.

Kondisi ini tentu menjadi beban berat bagi para pengusaha, termasuk Nurul Hakim, salah satu perajin tahu yang telah lama menggeluti usaha ini di Banyuwangi.

Menurut penuturan Nurul Hakim, kenaikan harga bahan baku utama ini memberikan dampak yang sangat signifikan dan terasa langsung terhadap kelangsungan usahanya.

Biaya yang harus ia keluarkan setiap kali hendak membeli stok kedelai meningkat tajam, jauh lebih besar dibandingkan beberapa bulan sebelumnya saat nilai tukar rupiah masih relatif lebih kuat.

Hal ini membuat struktur biaya produksi menjadi membengkak, sementara di sisi lain, ia tidak serta merta bisa menaikkan harga jual produknya secara drastis karena khawatir pembeli akan beralih atau berkurang daya belinya.

“Kenaikan harga kedelai impor belakangan ini benar-benar memukul kami. Karena bahan baku utama kami ini bergantung pada pasokan luar, begitu rupiah melemah terhadap Dolar, harga kedelai langsung naik drastis. Dampaknya sangat besar sekali terhadap hitungan produksi kami.

Modal yang biasanya cukup untuk jumlah tertentu, sekarang harus ditambah lagi hanya untuk mendapatkan jumlah bahan yang sama,” ungkap Nurul Hakim menceritakan kesulitan yang sedang ia hadapi.

Ia menambahkan, saat ini ia dan rekan-rekan pengusaha tahu lainnya sedang berusaha bertahan dengan cara mengatur strategi penjualan dan menekan biaya operasional seminimal mungkin.

Namun, jika pelemahan rupiah dan kenaikan harga kedelai ini terus berlanjut dalam waktu yang lama, dikhawatirkan usaha-usaha kecil seperti miliknya akan semakin sulit untuk bertahan dan terancam gulung tikar.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana stabilitas nilai tukar mata uang sangat berperan penting dalam menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. [ Uswatun ]

Sumber foto : Kompas.com

Langganan

- - Tidak Pernah Ketinggalan Berita Terbaru

- Dapat Mengkases Berita Ekslusif

- Gratis

Untuk Kamu

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini