JAKARTA _ 13 Juni 2026, m4m4t.com – Harapan besar akan melonjaknya kunjungan wisatawan dan pemasukan sektor pariwisata akibat penyelenggaraan Piala Dunia 2026 ternyata belum terwujud. Ajang sepak bola terbesar dunia yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini justru mencatat kinerja yang jauh di bawah perkiraan awal.
Selama bertahun-tahun, turnamen ini diproyeksikan menjadi sumber keuntungan besar bagi industri perjalanan dan perhotelan AS. Namun, hingga awal penyelenggaraan, jumlah kedatangan wisatawan internasional justru mengalami penurunan. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah kekhawatiran yang disampaikan oleh sejumlah kelompok hak asasi manusia terkait kondisi di negara tersebut.
Gelombang kedatangan suporter dari berbagai penjuru dunia yang diharapkan memadati kota-kota tuan rumah ternyata tidak terjadi. Akibatnya, banyak pengusaha perhotelan terpaksa menurunkan tarif kamar secara drastis demi mengisi kekosongan hunian.
Penurunan minat juga terlihat pada sektor penerbangan. Pemesanan tiket pesawat melemah seiring melambungnya harga tiket perjalanan, ditambah dengan mahalnya biaya menonton pertandingan langsung. Para pengamat menilai antusiasme terhadap edisi kali ini jauh lebih rendah dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Kondisi awal yang kurang menggembirakan ini mengindikasikan bahwa model bisnis Piala Dunia yang selama ini mengandalkan kedatangan suporter asing dengan pengeluaran besar mulai kehilangan daya tarik. Tingginya biaya perjalanan, prosedur pengurusan visa yang ketat, serta kerumitan berpindah lokasi antarkota yang tersebar di tiga negara berbeda menjadi hambatan utama.
Sementara itu, kunjungan wisatawan domestik di AS belum mampu menutupi kekurangan tersebut. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa sepak bola masih menjadi olahraga yang kurang populer dibandingkan jenis olahraga lain seperti bola basket, bisbol, dan sepak bola Amerika. [ Annisaa ]
Sumber foto : detikfinance




