JAKARTA _ 30 Juni 2026, m4m4t.com – Kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau akrab disapa dr. Icha menyisakan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar di tengah masyarakat. Kasus ini mencuat ke permukaan setelah muncul dugaan dokter muda tersebut menerima tekanan psikologis dan intimidasi berat saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan keterangan keluarga, peristiwa bermula saat dr. Icha merawat pasien gigitan ular hijau yang tak lain adalah keponakan salah satu anggota DPRD TTU. Setelah penanganan medis dilakukan, tiga orang yang diduga anggota dewan mendatangi rumah sakit dan melakukan intimidasi terhadap dokter tersebut. Dugaan ini kini sedang didalami secara serius oleh pihak kepolisian.
Paman korban, Fabi Banase, mengungkapkan fakta yang memilukan terkait kedatangan para tamu tak diundang itu. “Dua dari tiga anggota DPRD yang datang ke IGD diduga dalam kondisi mabuk saat masuk ke ruang UGD,” ungkap Fabi pada Sabtu (27/6/2026).
Sejak insiden tersebut, kondisi psikologis dr. Icha terus menurun drastis. Hasil pemeriksaan kejiwaan di Klinik Utama Dewantara pada Rabu (23/6/2026) menunjukkan korban menderita depresi berat tanpa gejala psikotik dan bahkan sempat melakukan percobaan bunuh diri.
Sebelum meninggal dunia, dr. Icha sempat mengirim pesan menyayat hati kepada keluarganya yang menggambarkan betapa beratnya tekanan yang ia tanggung.
“Dia bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. ‘Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana, saya takut. Biar saya mati saja supaya jangan ada korban nakes yang lain’,” tutur Fabi mengulang pesan keponakannya.
Keluarga lainnya, Victor Manbait, menegaskan bahwa dr. Icha telah menangani pasien sepenuhnya sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan arahan dokter spesialis anak. Masalah muncul ketika keluarga pasien meminta jenis vaksin tertentu yang secara pertimbangan medis belum dianjurkan dan juga tidak tersedia di rumah sakit tersebut.
Tak lama setelah permintaan itu tidak terpenuhi, dua orang yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU datang dengan nada tinggi, memprotes tindakan medis yang diambil. Salah satu di antaranya bahkan dilaporkan sempat menunjuk wajah dr. Icha saat menuntut penjelasan.
“Dokter Icha mengaku masih merasa ketakutan dan tertekan secara batin akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” tambah Victor.
Kepanikan korban juga terlihat dari keterangan rekan kerjanya, dr. Trimaharani. Ia menceritakan bahwa malam kejadian, dr. Icha berkali-kali menghubunginya lewat telepon dan pesan singkat. Korban meminta bantuan untuk menjelaskan kondisi medis pasien kepada keluarga dan anggota dewan yang ada di lokasi, karena merasa tidak berani menghadapi situasi tersebut sendirian.
Hingga saat ini, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan untuk mengungkap kebenaran dan memproses pihak yang bertanggung jawab atas dugaan intimidasi yang menimpa tenaga medis tersebut. [ Uswatun ]
Sumber foto : Liputan6.com




