INDRAMAYU – Menyikapi kompleksitas tantangan yang melingkupi sistem pendidikan nasional, sejumlah guru besar dan cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu merumuskan visi strategis guna menata arah pendidikan Indonesia menuju masa depan yang gemilang. Deklarasi gagasan besar ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, di lingkungan Mahad Al Zaytun, Indramayu.
Inisiatif ini disampaikan di hadapan para hadirin oleh Syaykh Al Zaytun Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, S.Sos., MP., yang mengemukakan wacana pembangunan pusat pendidikan berasrama terpadu yang tersebar di 500 kabupaten dan kota di seluruh tanah air.
“Dengan nama Tuhan Yang Maha Esa, serta berlandaskan nilai luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kami para guru besar dan cendekiawan memandang pendidikan sebagai tiang utama yang menopang kemajuan bangsa dan menjadi penentu arah peradaban suatu negara,” demikian bunyi pembukaan deklarasi tersebut.
Para cendekiawan menegaskan bahwa hingga saat ini, sistem pendidikan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar, di antaranya kesenjangan kualitas antarwilayah, belum meratanya akses terhadap pendidikan bermutu, lemahnya pembentukan karakter dan jiwa kepemimpinan, rendahnya budaya penelitian dan penemuan, serta belum selarasnya kurikulum dengan dinamika ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan pembangunan nasional.
Di sisi lain, gelombang perubahan zaman yang ditandai dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, pergeseran struktur ekonomi global, serta dinamika sosial yang senantiasa berubah, menuntut lahirnya generasi penerus yang tidak hanya unggul dalam ranah intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh, kesadaran kebangsaan yang tinggi, penguasaan teknologi, jiwa kepemimpinan, serta berpijak teguh pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Berdasarkan kesadaran mendalam tersebut, disepakati bahwa diperlukan sebuah transformasi besar dalam dunia pendidikan yang tersusun secara sistematis, berkelanjutan, dan menjangkau seluruh penjuru nusantara. Oleh karenanya, para cendekiawan menyatakan dukungan penuh dan komitmen kebangsaan terhadap gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama terpadu yang tersebar merata di seluruh Indonesia.
Gagasan ini dipandang sebagai langkah strategis yang bersifat nasional dan rasional, guna mempercepat pemerataan mutu pendidikan, melahirkan sumber daya manusia yang berdaya saing, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, serta mempersiapkan Indonesia untuk tampil sebagai salah satu kekuatan peradaban dunia pada abad ke-22.
Lebih lanjut, para deklaran meyakini bahwa pendekatan pendidikan berbasis LSTEAMS—yang mencakup bidang hukum, ilmu pengetahuan alam, teknologi, rekayasa, seni, matematika, dan nilai spiritual—merupakan fondasi yang tepat untuk membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, taat terhadap hukum, kreatif, produktif, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab global.
Melalui deklarasi ini, diharapkan seluruh komponen bangsa—baik pemerintah pusat maupun daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, tokoh agama, budayawan, organisasi kemasyarakatan, maupun segenap rakyat Indonesia—dapat bersatu padu menjadikan pembangunan manusia sebagai prioritas utama. Sebagaimana amanat yang disampaikan: “Membangun manusia berarti membangun bangsa, dan membangun pendidikan berarti membangun peradaban. Lima ratus pusat pendidikan nasional berasrama, demi kejayaan Indonesia Raya yang abadi.” [ Annisaa ]




